SELAMAT DATANG & SELAMAT MENIKMATI BLOG INI

Senin, 05 November 2012

BAHAYA PENGHORMATAN BERLEBIHAN KEPADA MANUSIA ATAU GHULUW


Ilustrasi Cium tangan - sarkub.com

Kali ini saya men-share-kan kajian seputar kebiasaan mengagung-agungkan secara berlebihan atau Ghuluw (dalam bahasa Arab) kepada seseorang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat atau pimpinan, Tulisan ini saya persembahkan buat seluruh kaum muslimin tentang akhlaq Rasullullah SAW  dan para sahabat-NYA Radhiallaahu ‘anhu.

Hal ini saya lakukan untuk menerapkan Islam secara Kaffah disisa umur saya ini. Dan memberitahukannya kepada seluruh umat islam tentang kebenarannya. Sekaligus mengingatkan para Ustadz, para Guru Agama, para Da’i, para Habib atau siapapun itu yang menjadi Panutan, Imam atau Tokoh Agama.


Berikut ini kajiannya yang merupakan kiriman sohib Pandawa Lima di komunitas Muslim CNI :

“DALAM episode film OMAR 'Umar bin Khattab' yang ditayangkan oleh sebuah TV swasta selama bulan Ramadhan yang lalu, ada sebuah ADEGAN yang patut ditiru oleh para guru agama, ustadz, ulama, habib, atau siapa pun yang dianggap sebagai tokoh agama. Adegan apa itu?

Ketika ada seorang bapak tua yang kagum dengan akhlak dan kepemimpinan Amirul Mukminin, Umar bin Kattab, ingin bersalaman dengan beliau sambil membungkuk dan menundukkan kepalanya, maka Umar bin Khattab segera menarik tangannya yang sudah siap disalami oleh bapak tua itu, seraya Umar berkata kepada bapak tua itu, "Apakah kamu ingin menghinakan dirimu..." (inilah teks terjemahan yang saya ingat). Dan, nampaknya bapak tua itupun memahami ucapan Amirul Mukminin... Lalu ia bergegas pergi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.”

Saya pun mencoba memahami apa makna kalimat "Apakah kamu ingin menghinakan dirimu..." dan akhirnya saya menyimpulkan sendiri (boleh setuju atau tidak), bahwa (nampaknya) Umar bin Khattab itu tidak ingin dihormati dengan cara berlebihan seperti yg ingin dilakukan oleh bapak tersebut. Kemudian, makna lain yang tersirat, adalah manusia yang mengkultuskan dan mengagung-agungkan sesama manusia itu termasuk ke dalam kategori perbuatan syirik, dan tentu pelakunya akan terhina di sisi Allah SWT. Yang patut diagung-agungkan hanyalah Allah swt, karena Dia memang Maha Agung.

Subhanallah... Umar bin Kattab --yg sdh dijamin masuk surga—saja tidak sudi disalami dengan cara bapak tua tsb, apalagi sampai dikultuskan dan diagung-agungkan secara berlebihan (ghuluw) sebagaimana yang kini sering dilakukan oleh para pengikut
majelis-majelis tertentu yang amat berlebihan dalam menghormati atau menyambut gurunya. Ada yang sambil pasang kembang api dan petasan (dar der dor), gelar karpet khusus sepanjang lintasan yg akan dilalui gurunya, cium tangan 'bolak balik', rebutan ingin memegang atau menyentuh jubah/gamis sang guru, lalu dinaungi pakai payung (padahal tidak ada hujan atau panas he he)...

Faktanya memang begitu. Saat 'musim' perayaan Maulid yang lalu, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa penyambutan seorang guru agama yg disebut 'Habib' di sebuah perkampungan yg bersebelahan dengan sebuah RS Ibu dan Anak (Hermina, Jatinegara) begitu berlebihan... Waktu itu saya dan istri sedang menjenguk adik ipar yang sedang dirawat di RS tersebut karena mengalami keguguran.

Malam itu (sekitar pkl. 21.00), ketika sang habib yg ditunggu-tunggu tiba, maka beberapa org jamaah segera menyambutnya dengan membuka payung utk menaungi habib dan yang lain membakar petasan kembang api yang bunyi 'ledakannya' cukup memekakkan telinga. Sampai di depan musholla, panitia menyambutnya dengan iringan shalawat plus tabuhan musik marawis serta tak ketinggalan 'letusan' petasan yang lagi-lagi bunyinya cukup membuat pekak telinga.

Ya Allah... (gumam saya), beginikah cara beragama yang dicontohkan oleh Rasul-Mu? (tentu tidak). Sementara di RS bersalin itu, banyak ibu-ibu yang sedang menanti kelahiran bayinya dan ada pula yang dirawat karena mengalami keguguran (seperti adik ipar saya itu). Bunyi petasan dar der dor dan keriuhan penyambutan sang habib terdengar di ruangan rumah sakit. Pokoknya malam itu saya dan istri agak kesal bin jengkel melihat 'perilaku' atau 'ritual' semacam itu. Bagaimana orang lain akan simpatik jika caranya seperti itu, sebab mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang lain di sekitarnya pada malam itu.

Saya juga pernah dengar dari ceramah ustadz, bahwa ketika suatu kali Nabi Muhammad saw terlambat datang ke masjid, di mana para sahabat sudah menanti untuk shalat berjamaah, maka ketika Nabi saw datang... beberapa sahabat yang sedang duduk buru-buru bangkit berdiri untuk bersalaman dengan beliau saw... Tapi Nabi saw melarang dan meminta mereka tetap di tempat (duduk), sambil berkata "Aku ini hanya seorang biasa seperti kalian...".

Subhanallah. Nabi saw saja seperti itu lho akhlaknya... lantas kenapa orang-orang biasa di zaman sekarang cenderung bersikap 'ghuluw' dan ada yang ingin dihormati bak Raja dalam dongeng 1001 malam. Nauzubillah.

Semoga kita semua dijauhkan dari sikap 'Ghuluw' atau berlebihan dalam beragama, terutama dalam menghormati seorang guru, ulama atau habib. Kita hormati mereka sewajarnya saja karena keluasan ilmu agama dan akhlaknya, bukan karena 'keagungan' atau 'kehebatan' sosoknya. Jangan sampai kita seperti orang-orang Yahudi yang telah menganggap Nabi Uzair sebagai 'anak Allah' lantaran mereka kagum kepada beliau yang merupakan satu-satunya orang di zaman itu yang hafal kitab Taurat. Itulah bahaya ghuluw akan menjerumuskan manusia ke jurang kesesatan dan kehinaan (berbuat syirik). Wallahu a'lam.

Semoga bermanfaat...
PANDAWA LIMA

Sumber
Herdi Dudung- KMCNI


8 komentar:

  1. Kalau menghormati yg sewajarnya dan sepantasnya gak apa dan bagus, tapi kalau terlalu berlebihan memang menjadi bid'ah, ...
    saya setuju dg postingan ini sobat
    bermanfaat
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, saya sependapat dengan sohib PP

      Hapus
    2. Ijin nyimak kembali sobat, saya masih belajar banyak di Blog ini, terutama EREFERRER ini gimana sobat, kalau boleh tolong ajari sobat
      Terima kasih sebelumnya

      Hapus
    3. boleh sohib... Ntar saya buat dalam bentuk postingan ya....

      Hapus
  2. Baru di blog ini saya menemui artikel yang sependapat dengan saya, seperti komentar Pak Penyuluh kalau tidak berlebihan tidak apa-apa.Justru yang kita lihat kebanyakan sangat berlebihan,saya hanya berani tidak setuju dalam hati saja dan tidak ikutan berbuat demikian.

    BalasHapus
  3. benar itu gan.. sukses follow ke 94, ditunggu kunjungannya dan follbacknya

    BalasHapus
  4. Alhamdulillaah,, tulisan ini sangat bermanfaat untuk kita renungkan. Semestinya yg kita hormati itu keilmuannya bukan "orang" nya. Dan kita mesti ingat bahwa ada sang "maha" ilmu yaitu Allah SWT.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar menggunakan hati nurani dan tidak mengandung SARA, SEX dan POLITIK"